Oleh : Gregorius GDJ Putra
Aktivis PMKRI (Ketua IMF–Ikatan Mahasiswa Flores Jakarta)
Jakarta, 11 Mei 2026 – Di ambang satu dekade menuju visi besar bangsa, narasi “Indonesia Emas 2045” kini memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Dengan manifesto Asta Cita sebagai kompas pembangunan, pemerintah menjanjikan transformasi besar-besaran. Namun, bagi masyarakat di beranda depan nusantara, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah delapan pilar ini akan mendarat secara konkret di tanah Flores, Papua, dan pelosok nusantara, ataukah ia hanya akan menjadi “kosmetik politik” yang gemerlap di Jakarta namun hampa di daerah?
<p align=”center”><i>Sumber: Detik.com | AntaraNews.com</i></p>
Greg, aktivis PMKRI sekaligus Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Flores (IMF) Jakarta, menyatakan bahwa Asta Cita sedang menghadapi ujian kredibilitas.
“Kita tidak butuh narasi yang hanya ‘Jakarta-Sentris’. Indonesia Emas tidak boleh dibangun di atas fondasi ketimpangan. Jika Asta Cita gagal menjawab persoalan kemiskinan ekstrem di NTT dan penguatan SDM di wilayah Timur, maka 2045 bukanlah ‘Emas’, melainkan ‘Perunggu’ yang berkarat oleh janji politik,” tegas Greg dalam pernyataan resminya hari ini di Jakarta.
Manifesto Asta Cita terdiri dari delapan pilar yang ambisius. Namun, Greg menyoroti adanya paradoks besar dalam implementasinya, terutama jika dikaitkan dengan realitas di wilayah pinggiran Indonesia.
Swasembada dan Food Estate: Kedaulatan atau Korporasi?
Pilar swasembada pangan dan energi seringkali diterjemahkan melalui proyek Food Estate. Greg mencatat bahwa di wilayah seperti Flores dan NTT secara umum, pendekatan pangan skala besar seringkali menabrak kedaulatan tanah adat.
“Jangan sampai atas nama Asta Cita, hak ulayat masyarakat adat dikorbankan demi kepentingan industri yang tidak menyentuh perut petani lokal,” ujarnya.
Hilirisasi dan Industrialisasi: Siapa yang Menikmati?
Hilirisasi (Pilar 5) memang menjadi primadona ekonomi. Namun, secara matematis, peningkatan nilai tambah ekonomi (Vadded) haruslah berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan lokal (Wlocal).
Jika variabel Transfer-Technology bernilai nol dan penyerapan tenaga kerja lokal hanya pada sektor rendah, maka hilirisasi hanyalah bentuk baru dari eksploitasi sumber daya alam yang “berpindah baju” dari mentah ke setengah jadi.
Tabel: Analisis Komparatif Asta Cita vs Realitas Regional
| Pilar Asta Cita | Janji Strategis | Realitas & Tantangan di Wilayah Timur (Flores/NTT) |
|---|---|---|
| SDM & Sains | Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. | Rasio guru dan fasilitas medis yang timpang dibanding Jawa. |
| Pemerataan dari Desa | Membangun dari bawah untuk pemerataan ekonomi. | Dana Desa seringkali terjebak dalam pusaran inefisiensi birokrasi lokal. |
| Reformasi Hukum | Pemberantasan korupsi dan kepastian hukum. | Indeks Persepsi Korupsi daerah yang masih merah; mafia tanah masih merajalela. |
| Lingkungan Hidup | Penyelarasan alam dengan kehidupan manusia. | Ancaman kerusakan ekosistem akibat tambang dan proyek strategis nasional. |
Lompatan Kuantum: Target 8% vs Inefisiensi Ekonomi
Pemerintahan Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8%. Secara teoretis, untuk mencapai lompatan ini, Indonesia harus memperbaiki efisiensi investasi yang diukur melalui Incremental Capital Output Ratio (ICOR).
G=Investment RateICORG=\frac{Investment\ Rate}{ICOR}
Greg mengingatkan bahwa saat ini ICOR Indonesia masih berada di angka yang tinggi (tidak efisien).
“Bagaimana mungkin kita bicara lompatan kuantum jika birokrasi kita masih lambat dan korupsi masih menjadi ‘pajak tersembunyi’ yang mencekik pengusaha kecil di daerah? Tanpa reformasi pilar ke-7 (Hukum dan Birokrasi), target 8% itu hanyalah fatamorgana di siang bolong,” tambah Greg dengan nada kritis.
Sebagai kader PMKRI, Greg menekankan bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur melalui PDB (Gross Domestic Product), melainkan melalui Gross National Happiness dan indeks keadilan sosial. Pilar pertama Asta Cita mengenai pengokohan ideologi Pancasila tidak boleh hanya menjadi indoktrinasi lisan, tetapi harus mewujud dalam perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan beragama.
“Kami PMKRI melihat bahwa kemajuan bangsa bukan hanya soal infrastruktur fisik, tapi soal bagaimana martabat manusia dijunjung tinggi. Jangan sampai Indonesia 2045 menjadi negara maju secara ekonomi, namun kering secara etika dan keadilan,” tuturnya.
Lima Tuntutan Strategis IMF Jakarta kepada Pemerintah
Menyikapi perkembangan politik dan narasi Asta Cita, Greg sebagai Ketua IMF Jakarta menyampaikan lima poin tuntutan strategis kepada pemerintah:
- Prioritas Konektivitas NTTMenuntut pemerintah untuk tidak hanya fokus pada IKN, tetapi juga mempercepat pembangunan infrastruktur digital dan maritim di wilayah Flores untuk menekan biaya logistik yang tinggi.
- Audit Proyek Strategis di DaerahMeminta transparansi penuh atas seluruh proyek nasional yang berlokasi di wilayah Timur agar benar-benar memberikan dampak bagi rakyat lokal, bukan hanya segelintir elite.
- Pendidikan Berbasis Keunggulan LokalMendesak agar pilar pendidikan dalam Asta Cita mengakomodasi kurikulum yang relevan dengan potensi kelautan dan pariwisata di NTT.
- Hentikan Kriminalisasi AktivisMengingatkan bahwa demokrasi adalah pilar kemajuan. Kritik mahasiswa dan masyarakat sipil terhadap Asta Cita harus dipandang sebagai vitamin, bukan ancaman.
- Revisi UU Agraria yang Pro-RakyatMemastikan bahwa implementasi Asta Cita tidak menggusur masyarakat adat demi kepentingan investasi berskala besar.
“Indonesia Emas 2045 adalah mimpi kolektif. Namun, kami mahasiswa tidak ingin tertidur lelap oleh mimpi itu lalu terbangun di tahun 2045 dalam kondisi yang masih tetap sama — menjadi penonton di tanah sendiri,” tutup Greg.
Aksi literasi dan pernyataan sikap ini akan terus dikawal oleh IMF Jakarta dan jaringan PMKRI di seluruh nusantara. Narasi Asta Cita akan terus ditakar: apakah ia akan menjadi lompatan kuantum yang membawa Indonesia sejajar dengan negara maju, atau justru terdistorsi menjadi fatamorgana politik yang hilang saat kekuasaan telah digenggam.
Greg
Ketua Umum IMF – Ikatan Mahasiswa Flores Jakarta / Aktivis PMKRI
WhatsApp: 0823-1058-4773
Email: ikatanmahasiswaflores@gmail.com
Ikatan Mahasiswa Flores (IMF) Jakarta merupakan organisasi primordial yang menghimpun ribuan mahasiswa asal Flores yang menempuh studi di Jakarta, berfokus pada pengembangan SDM dan pengawalan kebijakan publik yang berdampak pada daerah asal. Sementara itu, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) adalah organisasi mahasiswa Katolik yang memiliki sejarah panjang dalam gerakan moral dan intelektual di Indonesia.



