Ubah Minyak Jelantah dan Sampah Jadi Cuan, Kolaborasi Warga Makasar Tunjukkan Solusi Nyata Atasi Persoalan Lingkungan Jakarta

Jakarta, Persoalan sampah dan limbah rumah tangga yang selama ini menjadi tantangan besar di Jakarta ternyata dapat diubah menjadi peluang ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat. Hal tersebut dibuktikan oleh Komunitas Hijau Ceria Jakarta yang berlokasi di RT 03/RW 04, Kelurahan Makasar, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur (8/6/26).

Di bawah inisiatif penggiat lingkungan Bang Wisnu, komunitas ini berhasil mengolah minyak jelantah yang selama ini dianggap limbah menjadi produk lilin aromaterapi bernilai ekonomi. Program tersebut tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Koordinator Presidium Gerakan Aktivis Jakarta, Agus Harta, yang berkesempatan mengunjungi langsung kegiatan komunitas tersebut, menilai langkah yang dilakukan Komunitas Hijau Ceria sebagai contoh nyata penerapan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

“Minyak jelantah merupakan limbah yang sangat berbahaya apabila dibuang sembarangan. Jika masuk ke saluran air, dapat menyumbat drainase, menurunkan kualitas air, mengurangi kadar oksigen, bahkan mengancam kehidupan biota perairan. Kondisi ini juga berpotensi memperparah banjir di Jakarta. Namun, di tangan Bang Wisnu dan komunitasnya, limbah tersebut justru memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Agus Harta saat berdialog dengan pengelola komunitas, Senin (8/6).

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai

Program yang dijalankan Komunitas Hijau Ceria diawali dengan mengumpulkan minyak goreng bekas dari rumah-rumah warga. Minyak jelantah tersebut dibeli dengan harga berkisar Rp4.000 hingga Rp6.000 per liter, tergantung kualitas dan tingkat kejernihannya.

Selanjutnya, minyak yang terkumpul melalui proses penyaringan dan pengolahan sebelum dicampur dengan bahan-bahan pendukung yang aman dan ramah lingkungan. Hasil akhirnya berupa lilin aromaterapi yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan limbah asalnya.

Menurut Bang Wisnu, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga.

“Ini bukan sekadar membuat lilin aromaterapi. Yang paling penting adalah membangun kesadaran masyarakat bahwa minyak jelantah jangan dibuang sembarangan. Warga diajak mengumpulkannya karena memiliki nilai ekonomi. Lingkungan menjadi lebih bersih dan masyarakat memperoleh manfaat tambahan,” jelasnya.

Dorong Kolaborasi untuk Pengelolaan Sampah Jakarta

Gerakan Aktivis Jakarta menilai model pengelolaan limbah yang dilakukan Komunitas Hijau Ceria layak diperluas dan direplikasi di berbagai wilayah Jakarta. Untuk itu, diperlukan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat.

Agus Harta menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah di Jakarta tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor yang berkelanjutan.

“Kami optimistis Jakarta mampu berbenah dan menyelesaikan persoalan sampahnya sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi. Legislatif, pemerintah daerah di semua tingkatan, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat harus bergerak bersama secara transparan dan berkelanjutan. Kesadaran lingkungan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Ia juga mendorong Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta untuk lebih banyak turun ke lapangan dan berdialog langsung dengan para pelaku pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

“Jangan hanya membahas persoalan sampah dari ruang rapat. Temui komunitas seperti Bang Wisnu, bank sampah, hingga para pemulung yang selama ini berada di garis depan pengelolaan sampah. Dengan begitu, regulasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lapangan serta mudah dipahami oleh seluruh masyarakat,” ujar Agus.

Siap Direplikasi di 44 Kecamatan

Sebagai bentuk komitmen terhadap penguatan gerakan lingkungan berbasis masyarakat, Gerakan Aktivis Jakarta menyatakan kesiapannya untuk mendampingi dan mengadvokasi berbagai komunitas lingkungan agar program serupa dapat berkembang lebih luas.

Melalui sinergi berbagai pihak, Gerakan Aktivis Jakarta berharap model pengelolaan minyak jelantah dan sampah yang telah dijalankan Komunitas Hijau Ceria dapat direplikasi secara masif di 44 kecamatan se-DKI Jakarta, sehingga sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah semata, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Tags :

Share this post :