Jakarta, Juli 2026 – Dukungan terhadap Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama terus mengalir. Salah satunya disampaikan oleh Muh. Imam Taufiq R., anggota MPK PB HMI sekaligus aktivis Islam, yang menilai Nasaruddin Umar memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman kepemimpinan, serta otoritas keagamaan yang dibutuhkan untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Menurut Imam, PBNU bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan salah satu pilar penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan nasional, Nahdlatul Ulama dinilai konsisten berkontribusi melalui dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia menilai kekuatan NU bertumpu pada jaringan pesantren, para ulama, santri, masyarakat, dan organisasi kepemudaan yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari kehidupan bangsa.
“Jika menilik perjalanan sejarah bangsa, Nahdlatul Ulama telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam proses pembentukan Indonesia. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, NU hadir melalui kekuatan pondok pesantren, para santri, masyarakat, serta organisasi kepemudaan seperti Gerakan Pemuda Ansor. Setelah Indonesia merdeka, NU terus mengabdikan diri melalui dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga menjaga persatuan bangsa dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya.
Imam menambahkan, dalam berbagai momentum sejarah, NU juga menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ideologi negara dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Rekam jejak tersebut, menurutnya, menjadikan PBNU memiliki posisi strategis, tidak hanya bagi warga Nahdliyin, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Seiring berkembangnya peran NU di tingkat global, Imam menilai tantangan kepemimpinan PBNU semakin kompleks. Karena itu, Ketua Umum PBNU tidak cukup hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga harus mampu menjadi pemersatu umat sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keislaman yang diwariskan para ulama.
“Ketua Umum PBNU harus menjadi sosok pemersatu yang mampu mengonsolidasikan seluruh elemen Nahdliyin, mulai dari pesantren, masjid, surau, majelis taklim, kalangan cendekiawan, para saudagar, hingga generasi muda. Pada saat yang sama, ia juga harus mampu menjadi jembatan yang bijaksana antara umat dan umara, memahami karakter masyarakat Nusantara, serta menjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi ruh perjuangan NU,” katanya.
Lebih lanjut, Imam berpandangan bahwa Ketua Umum PBNU idealnya merupakan figur ulama yang memiliki kewibawaan keagamaan sekaligus kemampuan memimpin umat. Baginya, jabatan tersebut tidak hanya bersifat organisatoris, tetapi juga mengemban tanggung jawab moral dan spiritual.
“PBNU adalah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan jutaan warga Nahdliyin dalam persoalan keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Karena itu, Ketua Umum PBNU idealnya dipimpin oleh sosok yang memiliki kapasitas sebagai Imam Besar, memiliki keluasan ilmu, kewibawaan moral, legitimasi keulamaan yang kuat, serta mampu menjadi teladan bagi umat, bukan hanya menjalankan fungsi administratif organisasi.”
Menurut Imam, sosok pemimpin dengan karakter tersebut akan mampu menjaga marwah ulama, merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta menghadirkan kesejukan di tengah dinamika kehidupan berbangsa.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Imam menyatakan dukungannya kepada Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. Ia menilai pengalaman panjang Nasaruddin Umar sebagai ulama, cendekiawan, dan Imam Besar menjadi modal penting untuk memimpin PBNU di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar merupakan figur yang sangat layak memimpin PBNU. Beliau memiliki rekam jejak keilmuan yang kuat, pengalaman kepemimpinan yang panjang, serta pemahaman yang mendalam terhadap tradisi, budaya, dan karakter masyarakat Nusantara. Terlebih lagi, beliau merupakan sosok yang memiliki kapasitas sebagai Imam Besar, sehingga memiliki otoritas moral dan keagamaan yang sangat dibutuhkan untuk memimpin organisasi sebesar PBNU.”
Imam juga menilai kemampuan Nasaruddin Umar dalam membangun dialog lintas kelompok dan menjaga kesejukan di tengah keberagaman menjadi kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan PBNU pada masa mendatang.
Menutup pernyataannya, Imam berharap kepemimpinan PBNU ke depan mampu memperkuat peran organisasi sebagai perekat umat sekaligus mitra strategis bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan nasional maupun global.
“Saya percaya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar memiliki kemampuan membawa PBNU semakin kokoh sebagai perekat umat, penjaga tradisi, sekaligus mitra strategis bangsa dalam menghadapi tantangan masa depan. Kepemimpinan yang inklusif, berwawasan kebangsaan, serta berakar pada nilai-nilai Islam Nusantara merupakan modal penting agar PBNU terus menjadi cahaya bagi umat, bangsa, dan dunia.”



