JAKARTA — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Selatan resmi membuka agenda kaderisasi tingkat menengah dan nasional bertajuk Training Raya, yang meliputi Latihan Kader II (LK II), Latihan Khusus Kohati (LKK), dan Senior Course (SC).
Kegiatan tersebut mengusung tema besar “Membangun Kepemimpinan Intelektual di Era Teknologi, Memetakan Peradaban, dan Memformulasi Gagasan Strategis HMI.” Forum ini menjadi ruang bagi kader HMI untuk memperkuat kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta kemampuan membaca berbagai perubahan strategis di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Dalam pidato pembukaannya, Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Selatan, Abdul Muis, menegaskan bahwa kader HMI harus mampu tampil sebagai kompas moral dan intelektual di tengah derasnya arus disrupsi digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak lagi dapat dipandang sebatas sebagai perangkat pendukung kehidupan manusia. Teknologi telah menjadi bagian dari lanskap baru peradaban yang turut menentukan arah masa depan bangsa.
“Hari ini, kita tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita krisis kepemimpinan yang berakar pada nilai intelektual dan moralitas. Melalui Training Raya ini, HMI Cabang Jakarta Selatan berkomitmen melahirkan petarung gagasan yang siap menavigasi zaman,” ujar Abdul Muis di hadapan ratusan kader dari berbagai daerah.
Abdul Muis juga menguraikan tiga substansi utama yang menjadi pijakan dalam pelaksanaan Training Raya tersebut.
Pertama, kepemimpinan intelektual di era teknologi. Menurutnya, kader HMI tidak boleh gagap terhadap perkembangan teknologi. Kader justru dituntut mampu memahami dan memanfaatkan kecerdasan buatan, digitalisasi, serta analisis data sebagai instrumen untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Namun demikian, penguasaan teknologi harus tetap berjalan seiring dengan identitas kemahasiswaan dan nilai-nilai keislaman yang kritis, sehingga teknologi tidak menghilangkan dimensi moral dalam kepemimpinan.
Kedua, memetakan peradaban. HMI, kata Abdul Muis, harus memiliki kemampuan membaca arah perubahan zaman. Pemetaan terhadap dinamika sosial, politik, ekonomi, teknologi, dan kebudayaan menjadi penting agar organisasi tidak sekadar menjadi penonton dalam perjalanan sejarah.
“HMI tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah. Kader harus memiliki keberanian dan kapasitas untuk menjadi bagian dari pihak yang menentukan arah perjalanan bangsa,” tegasnya.
Ketiga, memformulasi gagasan strategis. Training Raya diharapkan tidak berhenti sebagai forum pembelajaran dan diskusi, tetapi mampu menghasilkan gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi taktis dan strategis, baik untuk penguatan internal organisasi maupun sebagai kontribusi terhadap kebijakan publik di tingkat nasional.
Abdul Muis menekankan bahwa setiap proses perkaderan harus memiliki dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
“HMI lahir untuk umat dan bangsa. Oleh karena itu, output dari training ini tidak boleh berhenti di dalam ruang kelas. Setiap gagasan yang lahir di sini harus menjadi solusi nyata bagi persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang sedang dihadapi bangsa saat ini,” tegasnya.
Ia berharap Training Raya dapat menjadi momentum bagi lahirnya kader-kader HMI yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keberanian untuk menawarkan gagasan dan mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
Di akhir pidatonya, Abdul Muis berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti seluruh rangkaian training dengan penuh khidmat, disiplin, dan kesungguhan.
Ia juga berharap para alumni Training Raya HMI Cabang Jakarta Selatan nantinya mampu menjadi prime mover atau penggerak utama perubahan di daerahnya masing-masing.
“Jangan jadikan training ini sekadar tempat mendapatkan status atau predikat sebagai alumni. Jadikan proses ini sebagai titik berangkat untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan peradaban,” pungkasnya.



