HMI Cabang Jakarta Selatan Tutup Training Raya 2026, Lahirkan Kader dan Gagasan Strategis Peradaban

JAKARTA — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Selatan resmi menutup rangkaian Training Raya 2026, sebuah agenda kaderisasi akbar tingkat nasional yang mempertemukan kader-kader HMI dari berbagai cabang di seluruh Indonesia.

Training Raya 2026 menjadi ruang penggemblengan intelektual, ideologis, sekaligus kepemimpinan melalui tiga jenjang kaderisasi, yakni Latihan Kader II (LK II), Latihan Khusus Kohati (LKK), dan Senior Course (SC).

Mengangkat tema “Membangun Kepemimpinan Intelektual di Era Teknologi, Memetakan Peradaban, dan Memformulasi Gagasan Strategis HMI”, rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat, kritis, dan penuh dialektika.

Ratusan peserta dari berbagai cabang HMI di penjuru Nusantara mengikuti proses kaderisasi tersebut hingga dinyatakan lulus. Mereka tidak hanya dibekali pemahaman keislaman, kebangsaan, dan ke-HMI-an, tetapi juga didorong untuk mampu membaca perubahan zaman dan merumuskan gagasan strategis bagi masa depan bangsa.

Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Selatan, Abdul Muis, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi terhadap suksesnya pelaksanaan Training Raya 2026.

Menurutnya, keberhasilan kegiatan tersebut bukan semata-mata diukur dari terselenggaranya forum dan bertambahnya jumlah kader yang lulus, tetapi juga dari sejauh mana para peserta mampu membawa gagasan dan nilai perkaderan untuk menjawab persoalan masyarakat setelah kembali ke daerah masing-masing.

“Alhamdulillah, Training Raya tahun ini berjalan dengan sukses, tertib, dan melahirkan mutu kader yang berkualitas. Tema yang kami angkat bukan lagi sekadar wacana di atas kertas. Melalui lulusan LK II, LKK, dan SC kali ini, HMI Cabang Jakarta Selatan resmi mendistribusikan para petarung gagasan yang siap menjadi kompas moral sekaligus pemikir strategis di era disrupsi digital,” ujar Abdul Muis dalam pidato penutupan.

Selama proses Training Raya, peserta tidak hanya mengikuti rangkaian materi dan diskusi bersama sejumlah tokoh serta narasumber, tetapi juga didorong untuk menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan dalam kerja-kerja organisasi dan kehidupan kebangsaan.

Dari proses tersebut, lahir sejumlah rekomendasi yang dirumuskan dalam tiga klaster utama.

Pertama, Manifesto Digital Kader. Dokumen ini memuat formulasi taktis mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan big data, untuk mendukung modernisasi dakwah serta gerakan sosial dan kemahasiswaan.

Kedua, Peta Jalan Peradaban (Roadmap). Gagasan ini menjadi instrumen analisis kritis untuk membaca berbagai persoalan bangsa, mulai dari ketimpangan sosial dan ekonomi hingga tantangan politik dan perubahan global. Peta tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan bagi kader HMI dalam memosisikan organisasi sebagai bagian dari solusi atas persoalan bangsa.

Ketiga, Cetak Biru Instruktur dan Kepemimpinan Perempuan. Output dari rumpun Senior Course dan LKK ini diarahkan untuk memperkuat kualitas instruktur serta mendorong lahirnya kepemimpinan perempuan yang semakin responsif, progresif, dan relevan, baik di lingkungan internal HMI maupun dalam ruang publik.

Ketua Panitia Pelaksana Training Raya 2026, Sholihin Alamsyah, menyampaikan bahwa tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah menjadi salah satu catatan penting dalam pelaksanaan kegiatan tahun ini.

Menurutnya, kehadiran peserta dari luar Pulau Jawa menunjukkan bahwa HMI Cabang Jakarta Selatan masih memiliki daya tarik sebagai salah satu ruang kaderisasi intelektual di tingkat nasional.

“Antusiasme peserta dari berbagai cabang, termasuk dari luar Pulau Jawa, menunjukkan bahwa semangat untuk meningkatkan kapasitas intelektual dan kepemimpinan kader masih sangat kuat. Ini menjadi energi positif bagi kami untuk terus menjaga kualitas perkaderan,” ujar Sholihin.

Ia menambahkan, Training Raya tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Setelah forum ditutup, para peserta diharapkan mampu membawa hasil diskusi dan gagasan yang telah dirumuskan untuk diimplementasikan di cabang dan wilayah masing-masing.

Berakhirnya Training Raya 2026 sekaligus menjadi awal bagi para kader yang telah mengikuti proses perkaderan untuk mengambil peran lebih besar di tengah masyarakat.

Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, tantangan demokrasi, persoalan ketimpangan sosial-ekonomi, serta kompleksitas persoalan kebangsaan, HMI dituntut tidak hanya mampu mempertahankan tradisi intelektualnya, tetapi juga melahirkan gagasan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.

HMI Cabang Jakarta Selatan berharap para lulusan LK II, LKK, dan SC Training Raya 2026 dapat menjadi aktor perubahan di daerah masing-masing dengan membawa nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, intelektualitas, serta semangat pengabdian.

Dengan demikian, penutupan Training Raya 2026 bukan menjadi akhir dari proses kaderisasi, melainkan titik awal bagi lahirnya kerja-kerja intelektual dan sosial yang lebih konkret.

Tags :

Share this post :