Jakarta, 22 Juli 2026 – Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG), Agus Harta, mengkritik maraknya pengelompokan masyarakat berdasarkan label generasi seperti Milenial, Generasi Z, hingga Generasi Alfa. Menurutnya, narasi tersebut justru mengaburkan persoalan utama bangsa dan berpotensi memecah persatuan nasional.
Agus menegaskan, kemajuan Indonesia tidak akan ditentukan oleh tahun kelahiran suatu generasi, melainkan oleh kualitas pendidikan, kedisiplinan, serta nilai kebangsaan yang ditanamkan sejak dini.
“Bangsa ini terlalu sibuk memperdebatkan label generasi. Padahal yang harus dibangun adalah karakter, disiplin, dan tanggung jawab terhadap bangsa. Jangan sampai kita terjebak pada pengkotak-kotakan yang justru menciptakan sekat baru di tengah masyarakat,” kata Agus dalam keterangannya, Rabu (22/7).
Menurutnya, teori pengelompokan generasi yang kini banyak digunakan dalam seminar, media sosial, hingga diskusi publik tidak memiliki landasan yang cukup kuat untuk dijadikan acuan dalam membangun kebijakan maupun cara pandang terhadap masyarakat.
Ia menilai, kecenderungan memberi stigma berdasarkan generasi hanya melahirkan stereotip yang pada akhirnya melemahkan semangat persatuan.
Agus membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah negara maju seperti Jepang, China, dan Iran yang dinilai lebih fokus membangun budaya disiplin, penguasaan ilmu pengetahuan, serta rasa tanggung jawab kepada negara dibandingkan memperdebatkan perbedaan antargenerasi.
“Negara-negara itu maju karena mendidik manusianya, bukan karena sibuk memberi label pada generasinya,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi kebangsaan melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan ikrar Sumpah Pemuda 1928, yang mempersatukan seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan usia maupun latar belakang.
Menurut Agus, berbagai persoalan bangsa, termasuk korupsi dan krisis integritas, bukan lahir karena faktor generasi, melainkan karena semakin lunturnya nilai moral dan semangat kebangsaan.
Oleh karena itu, ia mendorong agar pembangunan sumber daya manusia kembali difokuskan pada pendidikan yang utuh, yakni mengintegrasikan pendidikan agama sebagai kompas moral, ilmu pengetahuan sebagai dasar berpikir, penguasaan teknologi digital sebagai bekal menghadapi masa depan, serta pembiasaan disiplin dalam kehidupan sehari-hari.
Agus juga mengajak para orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih persuasif dengan anak-anak, terutama dalam menghadapi tantangan penggunaan gadget dan media sosial. Ia menilai pendekatan dialog jauh lebih efektif dibandingkan memberikan stigma atau hukuman.
Selain itu, ia mendorong keluarga menciptakan lingkungan yang produktif melalui kegiatan edukatif, seperti berkebun, beternak ikan, hingga mengembangkan keterampilan digital yang dapat menjadi bekal ekonomi di masa depan.
Ia berharap generasi muda diarahkan untuk menguasai keterampilan seperti desain grafis, digital marketing, dan kemampuan teknis lainnya yang memiliki nilai tambah, bukan sekadar menjadi konsumen konten digital.
Menutup pernyataannya, Agus mengajak seluruh elemen bangsa menghentikan perdebatan mengenai label generasi dan kembali menghidupkan nilai-nilai persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa.
“Sudah saatnya kita berhenti membahas ‘gen-gen’. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kapan seseorang lahir, tetapi oleh ilmu yang dipelajari, kedisiplinan yang dilatih, dan nilai kebangsaan yang terus dijaga bersama,” pungkasnya.



