Oleh: Haris Kusworo
Wakil Sekjen Ormas MKGR 2020–2025 dan 2025–2026
Sejarah Berdirinya Ormas MKGR dan Masa Pergolakan
Ormas MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong) didirikan pada tanggal 3 Januari 1960 oleh R.H. Sugandhi Kartosubroto, seorang jenderal (Mayjen. Purn.) Angkatan Darat. Kelahiran MKGR terjadi secara alamiah dari panggilan sejarah, tidak melalui upacara yang disambut oleh para pejabat tinggi atau orang-orang yang berpengaruh. Yang ikut menyaksikan kelahiran bayi MKGR ini antara lain Thoyib Pardjojo, seorang petani bunga dari Kampung Kebon Jeruk di pinggiran Kota Jakarta, dan Abas Tarwi, seorang anggota polisi berpangkat bintara. Menurut pengakuan Pak Gandhi, mereka itu selanjutnya ikut menimang-nimang bayi MKGR. Lahir di masa pergolakan politik, MKGR menjadi benteng ideologi Pancasila dan gotong royong, serta menjadi salah satu pilar pendiri Partai GOLKAR. Organisasi ini bermula dari gagasan R.H. Sugandhi Kartosubroto untuk menanamkan jiwa gotong royong demi mengentaskan kemiskinan dan membangun bangsa. Dalam perjalanan sejarahnya, MKGR tumbuh menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil yang sangat berpengaruh.
Sejak didirikannya pada tanggal 3 Januari 1960, MKGR telah melewati peristiwa penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru dan dari Orde Baru ke era Reformasi. Pada tahun 1960-an, suhu perpolitikan di tanah air memanas. Persengketaan politik dan gesekan sosial meningkat, bahkan menjalar di berbagai daerah. Pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) menginfiltrasi hampir di semua lini kemasyarakatan dan pemerintahan. PKI memotori gerakan yang agitatif dan provokatif, bahkan menyerukan dibentuknya angkatan ke-5, yaitu dipersenjatainya kaum tani dan buruh pabrik. Untuk membendung pengaruh komunis ini, kekuatan Tri Karya (MKGR, KOSGORO, SOKSI), bersama-sama pimpinan Angkatan Darat, tokoh-tokoh pemuda, agamawan, guru, cendekiawan, dan petani, membentuk front antikomunis. Pemberontakan PKI gagal total. Bersama-sama dengan rakyat dan TNI, MKGR ikut terpanggil menyelamatkan bangsa ini dari ambang perpecahan, permusuhan, dan kehancuran. Tak lama berselang, terjadi pergantian pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Ketika terjadi peralihan dari Orde Baru ke era Reformasi, pada tanggal 24 September 1998, terjadi situasi yang dramatis ketika Ny. Mien Sugandhi secara sepihak—tidak melewati mekanisme organisasi—mendeklarasikan berdirinya Partai MKGR di Jakarta dan menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum Partai MKGR. Hal ini membawa konsekuensi serius berkenaan dengan amanat mendiang R.H. Sugandhi yang menegaskan bahwa, “MKGR adalah ormas. Sekali ormas tetap ormas, forever….” Ini berarti langkah politik Ny. Mien Sugandhi telah mengingkari ajaran orisinal Bapak pendiri MKGR, R.H. Sugandhi, sehingga tidak bisa lagi dipertahankan sebagai Ketua Umum MKGR.
Pada tanggal 27 September 1998, para kader MKGR yang masih setia pada cita-cita murni MKGR sebagai ormas membentuk Komite Nasional Penyelamat MKGR. Sebagai kelanjutan Komite Nasional Penyelamat MKGR, pada tahun 1998 ini pula dibentuk DPP MKGR Reformasi dengan Ketua Umum Mayjen TNI (Purn.) Daryono dan Sekretaris Jenderal H. Zainal Bintang. Pada tanggal 6–7 Mei 1999, para kader Ormas MKGR tersebut menyelenggarakan Musyawarah Besar Luar Biasa (MUBESLUB) di Jakarta, menghasilkan kepengurusan DPP Ormas MKGR Masa Bakti 1999–2004 dengan Ketua Umum Drs. H.M. Irsyad Sudiro, M.Si.; Sekretaris Jenderal Drs. H. Zulkarnaen Djabar, M.A.; dan Bendahara Umum Drs. H. Roem Kono, M.Si. Dalam Mubeslub ini pula, secara resmi MKGR menggunakan sebutan lengkap Ormas MKGR. Jabatan Drs. H.M. Irsyad Sudiro pada saat itu adalah Ketua Fraksi Partai GOLKAR DPR RI dan jabatan terakhir di parlemen sebagai Ketua Badan Kehormatan DPR RI. Pada tanggal 17 November 1999, Kementerian Dalam Negeri RI mengeluarkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) DPP Ormas MKGR Nomor 338 Tahun 1999.
Reaktualisasi Peran Ormas MKGR dalam Pembangunan
Meskipun Ormas MKGR pernah mengalami pergolakan pada akhir Orde Lama dan di awal-awal era Reformasi, hal tersebut dapat dilalui dengan baik, bahkan hingga kini masih eksis dan menjadi salah satu kekuatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat masih menaruh kepercayaan dan harapan besar kepada Ormas MKGR untuk terus membangun serta memosisikan diri sebaik-baiknya dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesadaran tersebut diikuti oleh karya nyata Ormas MKGR yang selalu bersinergi, baik di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan, serta seluruh kekuatan potensi bangsa demi keberhasilan pembangunan nasional jangka panjang. Menyambut Indonesia Emas Tahun 2045 yang akan datang merupakan kesempatan Ormas MKGR untuk meningkatkan kualitas bangsa dalam semua aspek kehidupan. Oleh karena itu, Ormas MKGR harus berperan aktif di garda terdepan.
Konsepsi pembangunan nasional ini bertujuan membangun manusia dan masyarakat Indonesia dengan bersumber dari Pancasila. Yang ingin dibangun adalah masyarakat/manusia Indonesia seutuhnya. Hal ini adalah konsepsi pembangunan yang sesuai dengan visi Ormas MKGR, yaitu terwujudnya kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur, sejahtera, merata secara materiil dan spiritual, serta mengembangkan kehidupan demokrasi yang menjunjung tinggi dan menghormati kebenaran, keadilan, hukum, dan hak asasi manusia.
Ormas MKGR harus senantiasa berusaha mewujudkan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya tersebut dengan ikhlas, semata-mata dalam rangka upaya menegakkan, mengamankan, dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa demi memperkokoh NKRI.
Karenanya, Ormas MKGR dengan landasan perjuangan PANCA MORAL, LIMA GARIS, 3 A, dan kiprah Ormas MKGR harus senantiasa berusaha mewujudkan cita-cita Proklamasi dengan berperan aktif dalam pembangunan nasional di segala bidang untuk merealisasikan masyarakat yang demokratis dan berdaulat, sejahtera, adil, dan makmur, menegakkan supremasi hukum dan menghormati hak asasi manusia, serta terwujudnya ketertiban dan perdamaian dunia.
Kita menyadari bahwa bangsa Indonesia saat ini masih perlu berjuang keras untuk mengatasi persoalan besar yang kami sebut 5 K: Kemiskinan, Kebodohan, Korupsi, Ketidakadilan, dan Ketergantungan pada Pihak Asing. Persoalan-persoalan tersebut tentunya membutuhkan tindakan nyata yang perlu dirancang secara sistematis untuk mengatasinya. Ormas MKGR perlu mencanangkan gerakan kerakyatan dengan tema-tema yang dapat dipahami, dimengerti, serta dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Tema-tema gerakan yang mendasar tersebut di antaranya kecukupan sandang, pangan, dan papan, kesejahteraan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Pendidikan yang murah dan fasilitas kesehatan yang terjangkau. Sarana transportasi yang layak serta pembangunan infrastruktur, jalan, jembatan, irigasi, penerangan, dan air bersih yang merata dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena itulah, Ormas MKGR menuju pada kondisi objektif bangsa Indonesia yang diinginkan, yaitu:
Indonesia Yang Makmur: Adalah Indonesia yang berkeadilan dalam berbagai segmen kemakmuran, termasuk segmen masyarakat kebanyakan. Maka, kebijakan pemerintah harus bertumpu pada keinginan dan aspirasi rakyat. Pemerintah harus memperbanyak lapangan pekerjaan dengan orientasi menempatkan tenaga kerja sesuai dengan keahlian dan latar belakang disiplin ilmunya.
Indonesia Yang Cerdas: Adalah Indonesia yang memiliki kualitas sumber daya manusia dalam rangka penguatan pendidikan sebagai basis utama dalam membangun kemandirian dan mengatasi keterbelakangan.
Indonesia Yang Adil: Adalah memberlakukan semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum, bebas memeluk agama dan aliran kepercayaan, bebas berpendapat di muka umum, tidak dihinakan karena sentimen etnis, ras, dan kepercayaan.
Indonesia Yang Bebas Korupsi: Adalah Indonesia yang menempatkan hukum sebagai pilar utama dalam menegakkan keadilan di masyarakat. Penanganan korupsi tanpa tebang pilih.
Indonesia Yang Mandiri: Adalah Indonesia yang berdaulat dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan.
Tantangan dan Peluang
Seiring dengan lajunya pembangunan dan modernisasi, kita harus jujur bahwa Ormas MKGR kini menghadapi tantangan sekaligus peluang apabila mampu mengatasinya dengan baik. Tantangan yang kini dihadapi terdiri dari tantangan internal dan eksternal. Tantangan internal di antaranya yaitu: a) melemahnya idealisme dan menguatnya budaya pragmatisme; b) melemahnya kecintaan kader Ormas MKGR terhadap korps; dan c) stagnannya sistem perkaderan dan regenerasi. Sedangkan tantangan eksternal di antaranya yaitu: a) persaingan semakin ketat dengan banyaknya ormas baru yang muncul dan inovatif; b) liberalisasi politik membuka peluang bagi seluruh elemen masyarakat tanpa melalui proses perkaderan dalam kancah politik nasional; c) kecenderungan utama yang sangat memengaruhi saat ini adalah pasar. Pasar begitu mewarnai kehidupan masyarakat dan menyebabkan semua aktivitas menjadi bersifat transaksional komersial. Hal ini dapat menggerus idealisme.
Ormas adalah tempat ditempanya para kader untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin. Oleh karena itu, Ormas MKGR harus mampu menjawab berbagai tantangan tersebut dan mengubahnya menjadi peluang. Ormas MKGR harus melakukan revitalisasi, regenerasi organisasi, dan reaktualisasi nilai-nilai perjuangannya agar mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Komposisi kepemimpinan organisasi yang mencerminkan regenerasi, idealisme, keteladanan, serta kapabilitas akan sangat menentukan keberhasilan perjuangan Ormas MKGR mendatang. Kepemimpinan Ormas MKGR harus mampu menghimpun semua potensi kekuatan yang dapat mengembalikan kekuatan organisasi. Dengan demikian, kaderisasi mutlak dilakukan dengan tetap memperhatikan benang merah kesinambungan peran generasi kader otentik sebelumnya untuk turut memperkuat struktur organisasi Ormas MKGR.
Di usianya yang ke-66 ini, Ormas MKGR menggelar MUBESLUB, forum pengambilan keputusan tertinggi organisasi, di mana keputusan-keputusan penting akan diambil untuk penyegaran demi kelangsungan organisasi. MUBESLUB hendaknya dimaknai untuk mengevaluasi perjalanan organisasi serta merumuskan arah organisasi ke depan agar mampu mengubah tantangan menjadi peluang sehingga tetap eksis, bahkan berprestasi dalam memainkan perannya sebagai organisasi sosial kemasyarakatan. Selamat ber-MUBESLUB. Semoga di bawah kepemimpinan Ketua Umum yang baru, Dr. Wihaji, yang juga Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, MKGR makin SOLID.



